Hai, apa kabar?
Iya, gue minta maaf karena hampir tiga tahun nggak nulis apa-apa di blog ini. Well, life happens. Hidup makin sibuk, ide nulis makin menipis, dan beberapa bulan terakhir ini gue malah sakit.
Sakit apanya, kok kelihatan malah makin sehat?
Nah, ya itu, gak kelihatan sakit, malah kelihatan lebih sehat. Tapi aslinya minum obat tiga kali sehari.
Heran, kan? Tapi ini realita yang gue hadapi beberapa bulan terakhir.
Beberapa hari sebelum bulan Ramadan kemarin, gue mendadak pingsan di lobi apartemen gue. Awalnya, gue kira penyakit darah rendah gue kambuh. Tapi entah kenapa dokter yang menangani gue di emergency room (ER) saat itu bersikukuh untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Selain tekanan darah dan vital, gue juga diminta untuk tes darah, bahkan USG dan rekam jantung (ECG).
Usut punya usut, ternyata level tiroid (T4) gue sudah berada di atas 100 pmol/L, sudah nggak bisa dibaca oleh komputer, sementara normalnya ada di rentang 11.9-21.6 pmol/L. Petugas lab darah panik, dokter jaga ER lebih panik lagi. Detik itu juga gue dipaksa terpaksa dirawat inap karena kondisi gue terlalu berbahaya untuk ditangani secara rawat jalan. Gue bahkan nggak diperbolehkan pulang untuk sekedar mengambil barang. Untungnya ada teman yang berbaik hati mengambilkan iPad dan Kindle gue—karena rumah sakit sudah menyediakan baju rawat inap dan toilettries. Yes, it was THAT dangerous.
![]() |
| Si kocak emang mau MRI malah kepikiran makanan 😭 |
Long story short, gue didiagnosa mengidap hyperthyroidism—hipertiroid. Kelenjar tiroid gue bengkak, dan menyebabkan gue pingsan karena otot jantung gue bekerja lebih keras karena overstimulasi dari hormon tiroid gue yang sangat berlebihan.
Selama seminggu gue dipenjara diopname, tapi entah kenapa dokter yang menangani gue merasa ada “other underlying issue” yang bikin level tiroid gue setinggi itu, bahkan sampai nggak bisa dibaca oleh mesinnya. Sayangnya semua tes yang gue jalani saat rawat inap nggak memberikan hasil yang konklusif selain diagnosa awal. Akhirnya gue diperbolehkan pulang dan dijadwalkan untuk follow up sebulan kemudian.
Lega? Engga. Soalnya sebulan kemudian saat follow up, muncul anomali baru.
Tes darah gue menunjukkan indikasi kalau gue juga mengidap myasthenia gravis, penyakit autoimun yang menyebabkan otot-otot tubuh lemah dan cepat lelah. Dokter spesialis endokrin yang menangani gue saat rawat inap sudah menduga hal ini karena katanya kelopak mata sebelah kiri gue terlihat turun (drooping). Tapi berhubung itu bukan ranah spesialisasi beliau, gue dirujuk ke dokter spesialis syaraf yang mengonfirmasi kalau yes, I have early stage of myasthenia gravis dan yang terdampak baru kelopak mata sebelah kiri.
Panik? Engga juga. Gue malah bengong waktu dijelaskan kalau hasil tes antibodi AChR gue menunjukkan indikasi yang identik dengan penderita myasthenia gravis. Butuh waktu buat gue memproses apa itu myasthenia gravis, apa yang harus gue lakukan dengan kondisi itu, dan sekian puluh pertanyaan yang tiba-tiba terlintas setelah mendengar kata “myasthenia gravis”.
Butuh setidaknya tiga bulan sampai gue benar-benar paham dampak penyakit ini ke kehidupan sehari-hari gue. Selama tiga bulan itu gue rutin konsultasi dengan dokter gue, baca banyak artikel dan riset tentang myasthenia gravis dan hyperthyroidism, dan ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman gue yang bekerja sebagai dokter dan pernah menangani pasien dengan dua kondisi tersebut.
So far, gue tau kalau gue harus rutin minum obat dan follow up dengan dokter, memastikan makanan gue sehat dan teratur, dan yang paling penting: tahu obat-obatan apa saja yang gue konsumsi saat ini, dan obat-obatan apa saja yang nggak bisa gue konsumsi sama sekali.
Berhubung myasthenia gravis adalah kondisi yang melemahkan otot, ada banyak obat-obatan yang nggak boleh dikonsumsi karena efek sampingnya dapat membuat kondisi pasien semakin parah. Saking banyaknya, organisasi yang menaungi pasien myasthenia gravis di Amerika Serikat menyediakan brosur khusus yang memuat list berbagai obat-obatan yang tidak boleh dikonsumsi.
Tapi karena gue nggak ada printer dan malas bawa-bawa brosur yang ada kemungkinan rusak, akhirnya atas saran temen gue memutuskan buat pakai gelang medical alert.
![]() |
| Gelang medical alert |









